Senin, 18 April 2016

Sejarah Pencak Silat dan Perkembangan Pencak Silat



Sejarah Pencak Silat dan Perkembangan Pencak Silat
Pada kegiatan belajar ini akan dibahas sejarah pencak silat dan perkembangan pencak silat yang mencakup asal mulanya ilmu bela diri pencak silat. Dengan membelajari kegiatan belajar ini, diharapkan akan menambah wawasan tentang hakikat bela diri pencak silat sehingga akan lebih menghayati dan mencermati pembelajaran pencak silat pada kegiatan berikutnya. 
A.Sejarah Pencak Silat
Pencak silat merupakan ilmu bela diri warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia. Untuk mempertahankan kehidupannya, manusia selalu membela diri dari ancaman alam, binatang, maupun sesamanya yang dianggap mengancam integritasnya. Cara membeladiri dari suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. Untuk daerah pegunungan pada umumnya ditandai dengan sikap kuda-kuda yang kokoh dan gerakan lengan yang lincah, sedangkan untuk daerah yang datar ditandai dengan sikap kuda-kuda yang ringan dan olah gerak kaki yang lincah. Perbedaan tersebut disebabkan karena kondisi daerah dan bentuk ancamannya, termasuk jenis senjata yang digunakannya. Jurus-jurus yang digunakan untuk membela diri banyak diilhami dari olah gerak binatang seperti macan, monyet, ular, bangau, ikan, dan lainnya. Akhirnya setiap daerah mempunyai beladiri yang khas dan berbeda dengan daerah lainnya, sehingga timbullah aliran beladiri yang beraneka macam. Pertemuan antara penduduk daerah yang satu dengan daerah yang lain menyebabkan terjadinya tukar-menukar ilmu beladiri sehingga dapat meningkatkan mutu beladiri di setiap daerah. Kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus terus dipelihara, dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayaatan dan pengalaman Pancasila, meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional, memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa serta mampu menjadi penggerak bagi terwujudnya cita-cita bangsa di masa depan (TAP.MPR, 1987:109)
B. Perkembangan Pencak Silat
1. Perkembangan pada Masa Penjajahan
Pada zaman penjajahan pencak silat dipelajari dan dipergunakan baik oleh punggawa kerajaan, kesultanan, maupun para pejuang dan pahlawan yang berusaha melawan penjajah. Di kalangan pejuang pencak silat diajarkan secara rahasia karenan kalau diketahui pemerintah akan dilarang keberadaannya. Perguruan-perguruan pencak silat tumbuh tanpa diketahui oleh penjajah bahkan sebagian menjadi semacam perkumpulan rahasia. Pencak silat dipelajari pula oleh kaum gerakan politik termasuk beberapa organisasi kepanduan nasional. Secara diam-diam perguruan-perguruan pencak silat berhasil memupuk kekuatan kelompok-kelompok yang siap melawan penjajah sewaktu-waktu. Kaum pergerakan yang ditangkap oleh penjajah dan dibuang secara diam-diam pula menyebarkan ilmu pencak silat tersebut di tempat pembuangan. Pasukan Pembela Tanah Air yang telah dikenal dengan nama PETA, juga mempelajari pencak silat dengan tekun. Politik jepang terhadap bangsa yang diduduki belainan dengan politik Belanda. Pencak Silat sebagai ilmu beladiri nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan jepang sendiri dengan mengobarkan pertahanan bersama menghadapi sekutu. Dimana-mana karenan anjuran serentak Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran pencak silat di seluruh jawa, serentak didirikan gerakan pencak silat yang diatur oleh pemerintah di Jakarta. Pada waktu itu tidak diciptakan oleh para Pembina pencak silat suatu olahraga berdasarkan pencak silat yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada setiap pagi di sekolahsekolah. Akan tetapi usulan itu ditolak oleh Shimitzu karena khawatir akan mendesak Tahayo Jepang. Sekalipun jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsure-unsur warisan kebersaran kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi untuk kepentingan Jepang bukan untuk kepentingan nasional kita. Namun, haruslah kita akui bahwa keuntungan yang kita dapatkan dari zaman itu kita mulai insaf lagi akan keharusan berusaha mengembalikan ilmu pencak silat dari masyarakat. Walaupun di masa penjajahan Belanda pencak silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru dan pendekar pencak silat atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsure-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas nasional. Para pelajar pada tahun diapuluhan atau sebelumnya mendalami pencak silat ternyata di masa kemerdekaan telah terbentuklah wadah nasional pencak silat Indonesia pada tahun 1948.
2. Perkembangan Pencak Silat Pada Zaman Kemerdekaan
Kemahiran ilmu beladiri pencak silat yang dipupuk terusmenerus oleh bangsa Indonesia akhirnya digunakan untuk melawan penjajah secara gerilya pada zaman perang kemerdekaan. Perguruan-perguruan pencak silat pada waktu perang kemerdekaan sibuk sekali mendidik, menggembleng, tentara dan rakyat. Pesantren-pesantren di samping mengajarkan agama juga meningkatkan pendidikan beladiri pencak silat. Perang fisik Surabaya melawan sekutu pada bulan November tahun 1945 banyak menampilkan pejuang yang gagah berani. Hasil didikan pencak silat dari Pondok Tebu Ireng, Gontor, Jamsaren. Pondok pesantren dan perguruan-perguruan pencak silat tersebut bukan hanya mengajarkan beladiri pencak silat melainkan juga mengisi jiwa para calon pejuang dengan semangat juang dan patriotism yang berkobar-kobar. Semangat juang demikianlah yang membuat mereka tak mempunyai rasa takut sedikitpun dalam melawan tentara sekutu yang mempunyai persenjataan yang lebih lengkap dan muthakir, sehingga akhirnya bangsa Indonesia dapat berhasil memenangkan perang kemerdekaan secara gemilang. Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, Belanda melancarkan dua kali agresi untuk menguasai kembali Indonesia. Pencak silat kembali dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kemahiran putra-putri Indonesia dan para pendekar pencak silat waktu itu. Menyadari bahwa pengajaran pencak silat berhasil memupuk semangat juang dan menggalang persaudaraan yang erat.  Pada awal kemerdekaan kita Belanda berhasil memecah belah bangsa Indonesia dalam kelompok-kelompok kesukuan dengan dibentuknya Negara-negara bagian. Bahkan kemudian terjadi pemberontakan politik PKI Madiun dan Darul Islam atau DI/TII. Kemahiran pencak silat bangsa Indonesia digunakan kembali untuk menumpas pemberontakan. Bahkan untuk menumpas DI/TII digunakan cara pagar betis yaitu pengepungan pemberontak oleh tentara bersama dengan rakyat yang telah diajarkan kemahiran beladiri pencak silat
3. Perkembangan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
Menjelang Pekan Olahraga Nasional yang pertama di Solo, para pendekar pencak silat berkumpul untuk membentuk organisasi pencak silat. Pada tanggal 18 Mei 1948 dibentuklah organisasi ikatan pencak silat seluruh indonesial yang disingkat IPSSI, yang kemudian menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ). Persatuan para pendekar dalam organisasi IPSI tersebut dimaksudkan untuk menggalang kembali semangat juang bangsa Indonesia yang sangat diperlukan dalam pembangunan. Yang lebih penting lagi, pencak silat dengan rasa persaudaraannya dapat memupuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia pada saat itu dalam keadaan terpecah belah. Dari sejak berdirinya sampai tahun 1973 dipimpin oleh Mr. Wongsonegoro, Mariyun Sudirohadiprodjo, dan Rachmad Suronegoro. Pada tahun 1973 sampai 1977 IPSI dipimpin oleh Tjocropranolo. Dibawah kepemimpinannya dicoba kembali untuk menempatkan pembinaan pencak silat secara nasional baik melalui pemerintahan maupun masyarakat. Usaha yang dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, kemudian kurang mendapatkan perhatian dan dirintis dengan diadakan Seminar Pencak Silat oleh pemerintah pada tahun 1973 di Tugu Bogor. Program olahraga beladiri pencak silat ditingkatkan dengan dilaksanakannya program pertandingan olahraga pencak silat dan dimasukan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Pada PON-PON yang lalu disamping demonstrasi pencak silat juga masuk dalam perlombaan. Dengan adanya jalur olahraga beladiri pencak silat komunikasi dengan daerah merupakan titik terang bagi perkembanga pencak silat. Pada masa tersebut berhasil dipersatukan aliran-aliran yang masih belum masuk ke dalam organisasi IPSI. Mulai tahun 1977 sampai 1980 walaupun masih dipimpin Bapak Tjokropranolo namun pimpinan harian dilaksanakan oleh Eddy Djadjang Djajaatmadja. Sejak tahun 1980 pimpinan harian IPSI dipegang oleh Eddy Marzuki Nalapraya yang kemudian pada tahun 1981 IPSI sepenuhnya dibawah pimpinannya. Dibawah pimpinannya IPSI telah berhasil melebarkan sayapnya sampai ke seluruh provinsi Indonesia, bahkan di Belanda, Jerman, Australia, Amerika. Organisasi IPSI dari sejak berdirinya PORI tahun 1948 sudah menjadi anggota PORI yang berfungsi wadah induk-induk organisasi olahraga. IPSI turut aktif mendirikan organisasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada tanggal 31 Desember 1967 sampai kini masih menjadi anggota Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI). Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dalam pembinaan olahraga pencak silat tergabung dalam organisasi KONI, sedang dalam bidang pembinaan kesenian, pencak silat tergabung dalam organisasi BKKNI. Dengan seringnya kegiatan pertandingan olahraga pencak silat di tingkat daerah maupun nasional tersusun kembali kekuatankekuatan pencak silat yang selanjutnya membutuhkan program pembinaan yang terarah. Usaha-usaha pemerintah untuk menangani pencak silat akan lebih mendorong masyarakat untuk ikut melestarikan pencak silat. Pada beberapa tahun terahir pencak silat di Negara Eropa dan Amerika maupun hubungan silaturahmi dengan bangsa serumpun di kawasan Asia Tenggara.  Pada tahun 1980 terbentuklah Pesekutuan Pencak Silat antar Bangsa (PERSILAT) yang didukung oleh Negara-negara Asean ialah Indonesia, Malaysia, Singapura. Pada Tanggal 1 Juli 1983 diadakan pertemuan di Singapura.
Pada bulan Juli 1985, PERSILAT memutuskan dan menetapkan peraturan-peraturan di bidang olahraga pencak silat meliputi:
1. Peraturan pertandingan olahraga pencak silat
2. Peraturan penyelenggaraan pertandingan olahraga pencak silat
3. Pedoman teknik dan taktik pertandingan olahraga pencak silat 4. Pedoman pelaksanaan tugas wasit dan juri olahraga pencak silat
5. Pedoman kesehatan pertandingan olahraga pencak silat
6. Ketentuan tentang peralatan dan kelengkapan pertandingan   olahraga pencak silat, (PERSILAT, 1985)       




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Videos